Bagi Arthur Schopenhauer, kehendak buta dan ketidaksadaran merupakan dua hal yang menentukan manusia, dunia dan sejarahnya. Menurutnya, akal budi manusia dikuasai oleh kehendak. Kehendak ibarat orang kuat namun buta yang mengangkat orang lumpuh yang dapat melihat. Manusia, dunia dan sejarah digerakkan oleh kehendak buta yang irasional tersebut. Kehendak yang tanpa alasan logis, kehendak irasional yang tak dapat benar-benar dipahami.
Hidup manusia mengalami penderitaan karena kehendak yang menuntut untuk dipuaskan, tak kunjung mendapat apa yang ia inginkan. Dan kehendak tidak punya tujuan akhir, ia senantiasa menghendaki. Akibatnya selalu ada penderitaan.
Pemuasan satu keinginan menuntutnya untuk minta dipuaskan pada keinginan yang lain. Hal tersebut terjadi secara terus menerus hingga tidak ada kepuasan akhir. Hal inilah yang membuat Scopenhauer melihat secara pesimis hakikat kehidupan sebagai sebuah penderitaan yang tak kunjung henti.
Ide tentang penderitaan juga ada dalam konsep biblical, dimana manusia terlahir dengan konsep membawa dosa yang dikenal dengan original sin. Dunia adalah tempat dimana manusia menebus dosanya melalui penderitaan.
Apabila kita ingin menilik tentang pemahaman kehidupan masyarakat Barat, kita akan menemui konsep kehidupan yang dikenal dengan istilah tragedi. Tragedi berawal dari masa Yunani dalam mitologi tentang Sishyphus, yang dengan susah payah mendorong batu besar ke atas puncak gunung. Lalu setelah sampai ke atas puncak gunung, batu tersebut digelindingkan lagi ke bawah dan kemudian dengan susah payah diulangi kembali untuk didorong ke atas puncak gunung. Begitulah seterusnya. Proses nihil makna yang tanpa henti ini menandai bahwa hidup adalah tragedi. Tanpa suatu tujuan yang jelas dan pasti.
Hidup yang tanpa tujuan ini bagi salah seorang filsuf eksistensialis asal Perancis Jean Paul Sartre disebut dengan kutukan kebebasan. Manusia dikutuk untuk bebas. Bebas untuk hidup tanpa suatu tujuan yang pasti. Hidup semacam ini adalah tragedi pahit, kutukan kelam yang harus diterima manusia. Untuk itu, manusia harus mencari sendiri tujuan hidupnya. Karena hidup dipahami sebagai sebuah keberlangsungan tanpa makna.
Bagi Nietschze yang mengawali Sartre dalam filsafat eksistensialisme, beranggapan bahwa manusia harus menjadi super. Harus kuat dan kokoh untuk menghadapi kehidupan yang memang pahit, berupa tragedi dan kutukan. Untuk itu manusia harus melampaui segala sesuatu. Kesadarannya harus melampaui, hingga harus melampaui Tuhan. Bahkan bagi Nietschze, Tuhan dianggap telah mati. Karena baginya manusia dapat hidup dan menjadi super bahkan tanpa Tuhan. Manusia dapat menentukan nasibnya sendiri, dengan dan melalui dirinya sendiri.
Beginilah kehidupan yang kelam dan muram dilukiskan dalam filsafat Barat. Sesuatu yang tampak berbeda apabila kita coba menilik pada spiritualitas Timur, khususnya dalam tradisi tasawuf dalam Islam.
Islam memahami kehidupan sebagai sarana penghambaan Tuhan, yang meskipun hidup diatur dalam aturan hukum, namun kehidupan dan alam semesta adalah sarana untuk melihat manifestasi kesempurnaan Tuhan. Melihat keindahan Tuhan dalam ciptaan-Nya, proses penghambaan diri terhadap Yang Maha Indah. Sebuah proses penghambaan yang menghantarkan manusia untuk mengenal keindahan-Nya dan mencapai tahapan yang kita namakan kebahagiaan.
