Bagi orang Aceh, sesuatu yang semua orang dapat melakukannya bukanlah hal yang istimewa. Menembak Kohler, misalnya. Aksi heroik pejuang Aceh menembak salah satu Jenderal Belanda yang ahli strategi perang, itu tidak dianggap sebagai hal luar biasa dan istimewa. Kenapa? Semua pejuang Aceh dapat menembak dan membunuh Kohler, tergantung siapa yang duluan mendapatkan kehormatan pertama, untuk melakukan itu.
Menembak Kohler bagi orang Aceh cuma perkara biasa, sama seperti menembak serdadu kaphe Belanda lainnya, dan karena itu para sejarawan tidak perlu bersusah-payah sampai berdarah-darah mencari informasi detail sang penembak seperti nama dan ukuran sepatu mereka. Itu pula yang membuat hampir tidak ada sejarawan mencatat nama sang penembak tersebut dalam buku sejarah yang mereka tulis.
Nah, apa yang saya tulis ini boleh jadi hanya sebuah kesimpulan terburu-buru dan baru muncul selagi sedang menyeruput kopi. Karenanya, Anda tidak harus percaya ‘full’ apa yang saya tulis. Anda pun tidak auto-berdosa karena ‘mengimani’ apa yang saya tulis. Iman Anda kepada malaikat jauh lebih penting daripada membaca ulasan tentang penembak jenderal yang tidak penting-penting amat tersebut.
Dari koleksi buku saya yang tidak seberapa banyak itu, saya belum membaca dan menemukan nama sang penembak ditulis dengan terang-benderang. Teman-teman saya dengan bekal pengetahuan sejarah lebih baik dari saya pun tidak mampu menjawab ketika saya sodorkan pertanyaan siapa nama penembak Kohler. Mereka hanya memberi jawaban klise, “dalam beberapa buku sejarah, penembak Kohler hanya ditulis pejuang Aceh.”
Dan, biasanya, untuk menambah efek dramatis serta biar terlihat keren, mereka kerap menyebut penembak Kohler sebagai seorang sniper dari kerajaan Aceh. Catat, seorang sniper! Jadi, sebelum Bradley Cooper terkenal dengan aksi heroiknya dalam American Sniper, sesungguhnya bangsa Aceh sebagai bansa teuleubeh ateuh rhueng donya sudah lebih dulu menciptakan ‘Acehnese Sniper. Hanya saja pelaku industri film Hollywood yang banyak pro-Yahudi itu abai melihat fakta ini secara jernih.
Warga Aceh secuilpun tidak tersinggung atas penafian ini. Sebab, seperti sudah kita singgung di atas, aksi heroik sniper itu cuma kejadian biasa-biasa saja, dan kerap diceritakan secara bercanda pula di warung-warung kopi Cina di Kutaraja. Orang Aceh juga tidak sampai mensomasi industri film Hollywood atau melakukan boikot menonton film, karena luput mem-film-kan heroisme pejuang Aceh. Persis seperti sikap yang mereka tunjukan saat bioskop ‘undur-diri’ dari Aceh.
Jika di Aceh profesi sniper dipandang biasa-biasa saja, tidak demikian halnya dengan di Uni Soviet. Di negara Lenin itu, penembak jitu (sniper) merupakan profesi mulia. Saking mulianya, banyak anak-anak muda (pria dan wanita) berlomba-lomba menjadi penembak.
Konon, Lyudmila Pavlichenko, seorang penembak wanita Uni Soviet sampai tergila-gila pada penembak dari Aceh. Dalam hemat dia, apa yang dilakukan pejuang Aceh merupakan hal yang luar biasa. Ia bahkan ngotot kuliah bagian sejarah hanya untuk mempelajari teknik penembak jitu, salah satunya dari sniper Aceh itu.
Benarkah Kohler Ditembak Sniper?
Ini tentu saja pertanyaan yang sukar dijawab. Soalnya belum ada sejarawan yang menulis secara lugas bahwa penembak Kohler adalah seorang sniper. Kita juga tidak diberitahu mengenai senjata apa yang digunakan penembak Aceh untuk menghabisi jenderal salah perhitungan ini. Ya, soalnya, dia keliru ketika melakukan analisa militer dengan memasukkan masjid raya sebagai istana kerajaan dan benteng pertahanan Aceh.
Dari beberapa keterangan, Kohler ditembak saat berada di pintu sebelah utara masjid, dan lokasi tertembaknya Kohler sudah dibuatkan prasastinya. Konon, ia ditembak karena berniat ‘memberaki’ tempat suci umat Islam (masjid). Dan, niat Kohler itu sampai ke telinga para pejuang Aceh, terutama yang sedang berdiam diri di Gampong Pande atau Gampong Jawa. Kedua tempat ini, dulunya, dikenal sebagai pusat persenjataan kerajaan Aceh.
Berdasarkan lokasi tertembaknya Kohler, kita bisa menduga-duga posisi penembak. Menurut olah tempat kejadian perkara (TKP) kilat yang saya lakukan sebelum menulis artikel ini, ada beberapa kemungkinan posisi penembak berada. Pertama, penembak mengambil posisi di lokasi sepanjang Polresta Banda hingga warkop Chek Yuke sekarang. Dulunya di kawasan itu masih berupa rawa dan semak belukar.
Kedua, penembak bersembunyi di kawasan markas Polisi Militer hingga jembatan Pante Pirak. Selain posisi penembak tidak terdeteksi, kawasan itu menjadi lokasi strategis untuk melarikan diri ke arah Lueng Bata, tempat di mana banyak pejuang Aceh menyusun barikade pertahanan.
Lokasi Kampung Baru/Lampaseh atau kawasan Taman Sari tidak mungkin dipilih penembak. Kawasan itu, setahu saya, masuk ke dalam daerah kekuasaan Ulee Balang Meuraksa, salah satu pejabat yang menerima kaple Belanda secara suka dan rela. Memilih lokasi itu sebagai tempat bersembunyi sama artinya dengan bunuh diri.
Pengambilan posisi untuk menembak Kohler yang kita sebutkan di atas, akan berhubungan erat dengan jenis senapan yang digunakan, di bagian tubuh mana Kohler tertembak (kepala atau dada sebelah kiri), serta dari arah mana peluru meluncur. Hanya saja, saya tidak mendapatkan hasil autopsi atau hasil uji forensik untuk menganalisis kasus ini lebih jauh.



