Pemerintah Aceh, melalui juru bicaranya, Muhammad MTA menyebut bahwa kemiskinan di Aceh terus meningkat terutama sejak Maret hingga September 2022. Menurut pria yang akrab disapa MTA ini, peningkatan angka kemiskinan pada Maret 2022 sebesar 14,64 persen telah naik menjadi 14,75 persen, yaitu naik sebesar 0,11 persen atau setara dengan 818.470 jiwa, dan ini disebabkan oleh laju inflasi yang lebih tinggi yaitu sebesar 3,62 persen terutama makanan dan minuman, tembakau (7,93 persen) dan inflasi transportasi (21,0 persen).
“Kenyataan ini menyadarkan kita bahwa pentingnya kolaborasi pemerintah kabupaten atau kota seluruh Aceh dalam tata kelola keuangan daerah bahkan pentingnya pengelolaan dana desa yang terfokus untuk sektor ril pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Muhammad MTA di Banda Aceh pada Kamis (19/1).
Ia juga menambahkan, jika dilihat garis kemiskinan juga meningkat sebanyak 6,57 persen lebih tinggi dari peningkatan rata-rata pengeluaran per kapita penduduk (3,57 persen), laju pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari triwulan I sebesar 3,24 persen, sektor pertanian juga mengalami penyusutan produksi, misalnya produksi padi pada September 2022 hanya 52,46 ribu ton, lebih rendah dibandingkan maret 2022 yang mencapai 207,71 ribu ton.
“Sejak tahun 2019 angka kemiskinan Aceh terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2019 angkanya sebanyak 15,01 persen, kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2020 menjadi 15,43 persen karena pandemi, dan naik kembali pada tahun 2021 menjadi 15,53 persen persen,” ungkapnya.
Muhammad MTA menambahkan, untuk menekan angka kemiskinan di Aceh, maka setiap kabupaten atau kota di daerah harus bisa menjadikan dana desa sebagai salah satu komponen penting untuk menekan angka kemiskinan masyarakat.
