Jika sebagian orang-orang di Aceh saya ibaratkan sebagai sebuah alat musik, maka kita adalah alat musik yang tidak tertuner dengan standar.
Tuner merupakan jenis alat untuk menyetem suara menjadi standar, dengan posisi yang tepat dan akurat. Namun tuner yang ingin saya bicarakan dalam persoalan ini, bukanlah tuner untuk menyetem suara. Walaupun bukan, tuner tersebut akan membetulkan apa saja yang sumbang dari dalam diri manusia.
Untuk mendapatkan tuner tidaklah terlalu susah, namun tidak pula mudah. Bisa jadi mereka yang sudah lulus perguruan tinggi sekalipun, belum tentu mendapat tuner dan mampu menyetem diri menjadi standar. Tuner akan mudah didapat jika sinyal kepekaan tidak dihentikan seperti mode pesawat di smartphone anda. Tentu pula standar yang saya maksud disini, bukanlah keseragaman. Itu sesuatu yang tidak mungkin. Setiap orang punya stelan masing-masing yang bisa jalan bareng untuk menyingkirkan ragam persoalan.
Akibat dari hilangnya penyeteman pada diri, maka perilaku-perilaku sumbang mendominasi setiap kehidupan. Pribadi-pribadi yang fals itu, atau di kampung disebut “digese stelan“, merusak harmoni kehidupan. Dari kampung sampai perkotaan. Dari tingkat kecamatan sampai provinsi. Dari orang awam sampai pimpinan daerah. Semua perilaku sumbang itu menjadi santapan harian kita dan bikin ngilu sistem sosial.
Rasanya, perilaku itu tidak hanya berlaku pada remaja saja. Orang tua-tua pun, sepak berserak dimana-mana. Perilaku yang fals tersebut, walau ditolak sebagian orang, namun kemudian dianggap lazim adanya. Paling banter, orang akan berkata;
“Meunyoe gitar, gitar baleng”
Orang-orang yang memiliki perilaku fals tersebut, biasanya jeli mengurus hal-hal kecil yang mereka anggap besar. Suka bikin standard demi kepentingan pribadi dan tentu tak lentur.
Entahlah. Misalnya disebuah kantor instansi pemerintah, menyuruh pulang anak orang hanya karena tidak memakai rok jika perempuan, atau tidak menggunakan celana kain bila laki-laki.
Celana kain adalah standard kesantunan. Celana jins adalah simbol tak berbudi pekerti. Hingga, beberapa kaum “meugese stelan” itu, mengaitkan datangnya bala akibat konser musik. Padahal, sikapnya dalam memperlakukan diri dan orang lain, adalah maksiat paling tersembunyi, namun semua orang kena imbasnya.
Ada lagi contoh semisal dosen-dosen yang memosisikan diri setingkat dewa di depan mahasiswa yang cemas, ragu-ragu hingga kelihatan goblok karena tugas-tugas sampah yang revisinya jutaan kali banyaknya. Hingga orang-orang yang sok suci menegur tanpa sopan pada perempuan yang tidak utuh menutup aurat. Sementara di lain waktu mata mereka membelalak di layar hp melihat perempuan yang joget vulgar di tiktok. Bahkan menunggu live tiktok yang ada adegan buka-buka pangkal payudara.
